Etiket kuil di Thailand: apa yang dipakai dan cara bersikap
Beranda › Blog › Thailand
Thailand · budaya dan adat

Etiket kuil di Thailand: apa yang dipakai dan cara bersikap

Penjelasan etiket kuil di Thailand: apa yang harus dipakai, sepatu dan ambang pintu, cara duduk, aturan seputar biksu, sesajen, fotografi, dan hari raya Buddha.

Di kuil-kuil Thailand, tutup bahu dan lutut, lepas sepatu sebelum masuk ke aula mana pun yang berisi patung Buddha, dan jangan pernah mengarahkan kaki ke arah patung Buddha atau biksu. Jaga suara tetap pelan, jangan memanjat atau menyentuh patung, dan perempuan tidak boleh menyentuh biksu atau menyerahkan apa pun langsung kepadanya.

Mengapa etiket kuil penting di Thailand

Lebih dari 90% warga Thailand menganut Buddha Theravada, dan negara ini punya lebih dari 40.000 kuil (wat). Bahkan yang paling terkenal, seperti Wat Phra Kaew di Bangkok atau Wat Phra That Doi Suthep di atas Chiang Mai, adalah tempat ibadah yang masih aktif, bukan museum. Biksu tinggal di sana, keluarga datang untuk berbuat kebajikan, dan orang-orang berdoa di depan patung yang sedang kamu foto.

Warga Thailand terkenal toleran terhadap turis asing yang sedikit salah langkah, dan tidak ada yang mengharapkanmu tahu semua adat istiadat. Tapi beberapa aturan dasar membuat perbedaan nyata: menunjukkan rasa hormat, mencegahmu diusir dari gerbang, dan membuat kunjungan lebih berkesan, karena orang-orang jauh lebih hangat pada pengunjung yang jelas berusaha. Kabar baiknya, hal-hal pentingnya sederhana dan sama di seluruh negeri, dari kuil-kuil kerajaan di Bangkok sampai wat desa kecil di utara dan reruntuhan kuno Ayutthaya dan Sukhothai.

Apa yang harus dipakai ke kuil Thailand

Aturannya sederhana: tutup bahu dan lututmu. Ini berlaku sama untuk laki-laki dan perempuan, dan pakaian longgar dan ringan juga pilihan paling nyaman di tengah cuaca panas.

Boleh dipakaiHindari
Kaos dan kemeja berlenganKaos tanpa lengan, tank top, atasan model off-shoulder atau cropped
Celana panjang, termasuk celana linen ringan atau bermotif gajahCelana pendek dan rok pendek di atas lutut
Rok panjang, gaun, dan sarungLegging, pakaian sangat ketat atau tembus pandang
Sandal atau sepatu yang mudah dilepasCelana jeans robek, pakaian dengan cetakan yang menyinggung atau bermuatan agama

Di kuil-kuil kecil, selendang untuk menutup bahu terbuka biasanya diterima. Grand Palace dan Wat Phra Kaew di Bangkok jauh lebih ketat: penjaga memeriksa setiap pengunjung, dan legging, jeans robek, celana ketat, serta atasan tanpa lengan ditolak. Kain penutup bisa disewa atau dibeli dekat pintu masuk, tapi lebih mudah datang dengan pakaian yang sudah pantas. Kuil populer seperti Wat Pho, Wat Arun, dan Kuil Putih (Wat Rong Khun) di Chiang Rai juga memeriksa, dan sering meminjamkan atau menyewakan sarung.

Tips praktis: bawa selendang atau sarung tipis di tas harianmu. Beratnya ringan, dan bisa mengubah pakaian pantai jadi pakaian kuil dalam hitungan detik.

Sepatu, ambang pintu, dan memasuki aula

Kenakan sepatu yang mudah dilepas. Di hari sibuk berkeliling banyak kuil kamu mungkin melepas dan memakainya lagi belasan kali, dan ubin panas di terik siang adalah alasan bagus lainnya untuk berkunjung pagi-pagi.

Kepala, kaki, dan cara duduk

Dalam budaya Thailand, kepala dianggap bagian tubuh yang tertinggi dan paling suci, sementara kaki dianggap yang paling rendah. Sebagian besar etiket kuil mengikuti gagasan ini.

Kalau kamu ingin menunjukkan rasa hormat di depan patung utama, berlututlah, rapatkan kedua telapak tangan di depan dada, dan membungkuk tiga kali, menyentuhkan tangan dan dahi ke lantai. Tidak ada yang mengharapkan pengunjung melakukan ini, tapi selalu diterima dengan baik.

Biksu: yang perlu diketahui

Biksu diperlakukan dengan penuh hormat, dan ada aturan jelas tentang cara berinteraksi dengan mereka.

Memberi sedekah (tak bat)

Saat fajar, biksu berjalan tanpa alas kaki di jalanan mengumpulkan makanan. Kalau kamu ingin ikut serta, beli sesajen seperti ketan, buah, atau minuman tersegel dari pasar lokal, lepas sepatumu, dan berlutut atau berdiri tenang dengan kepala lebih rendah dari para biksu. Letakkan makanan di mangkuk tanpa berbicara dan jangan menyentuh biksu. Kalau hanya ingin menonton, jaga jarak dan jangan pernah memakai flash.

Patung Buddha, sesajen, dan fotografi

Fotografi diizinkan di halaman hampir semua kuil, dan di sebagian besar aula. Pengecualian utama ditandai dengan papan tanda, termasuk di dalam kapel Buddha Zamrud di Wat Phra Kaew. Beberapa aturan umum:

Memberi sesajen

Kamu dipersilakan berbuat kebajikan. Paket sesajen kecil berisi kuncup teratai, lilin, dan dupa seharga sekitar 20-40 THB; nyalakan lilin dan dupa, pegang bersama teratai sambil membungkuk, lalu letakkan di tempatnya. Di beberapa kuil kamu bisa menempelkan lembaran emas kecil ke patung. Kotak donasi ada di mana-mana dan membantu biaya perawatan, dan uang pecahan 20-100 THB sangat dihargai. Kalau ada biaya masuk, seperti di Wat Pho atau Wat Arun, uangnya dipakai untuk perawatan situs.

Suvenir dan tato Buddha

Papan tanda di bandara dan area wisata mengingatkan pengunjung bahwa Buddha bukan hiasan. Hindari memakai kepala Buddha sebagai ornamen atau meletakkan patung di lantai, kamar mandi, atau di bawah ketinggian pinggang. Tato Buddha secara luas dianggap tidak sopan dan bisa menyinggung. Secara resmi, mengekspor patung Buddha, selain jimat kecil dan barang ibadah pribadi, memerlukan izin dari Departemen Kesenian, jadi tanyakan pada penjual sebelum membeli barang berukuran besar.

Hari raya Buddha dan keluarga kerajaan

Hari raya Buddha besar mengikuti kalender lunar, jadi tanggalnya berubah tiap tahun. Yang utama adalah Makha Bucha (Februari atau Maret), Visakha Bucha (Mei atau Juni), Asarnha Bucha, dan Khao Phansa, awal masa Puasa Buddha (Juli). Pada hari-hari ini:

Rasa hormat pada monarki terkait erat dengan agama di Thailand, dan potret Raja terpampang di banyak kuil. Jangan pernah membuat komentar negatif tentang keluarga kerajaan; hukum lèse-majesté Thailand sangat ketat dan berlaku juga untuk warga asing. Berdirilah untuk lagu kerajaan di bioskop, dan berhentilah saat lagu kebangsaan berkumandang di tempat umum pukul 08.00 dan 18.00. Untuk adat dan hukum lokal lainnya, lihat panduan keamanan Thailand kami.

Daftar periksa etiket kuil

Perlu diketahui

Sebelum berangkat: bahu dan lutut tertutup, selendang atau sarung di tasmu, sepatu yang mudah dilepas, dan uang pecahan kecil untuk sesajen dan tiket masuk. Di dalam: lepas sepatu, langkahi ambang pintu, duduk dengan kaki terlipat rapi, jaga suara tetap pelan, dan jangan pernah memanjat atau menyentuh patung Buddha. Perempuan tidak boleh menyentuh biksu atau menyerahkan benda langsung kepadanya.

Kalau hanya bisa mengingat tiga hal, ingatlah ini: berpakaian sopan, lepas sepatu, dan jauhkan arah kaki dari patung Buddha. Sisanya akan mengalir alami kalau kamu memperhatikan apa yang dilakukan pengunjung Thailand di sekitarmu.

Siap mempraktikkannya? Mulai dengan daftar hal terbaik untuk dilakukan di Bangkok kami, yang mencakup Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun, lengkap dengan harga tiket dan jam buka.

Pertanyaan umum

Bolehkah memakai celana pendek ke kuil di Thailand?

Tidak boleh di dalam aula utama, dan sama sekali tidak boleh di Grand Palace. Celana pendek di atas lutut dianggap tidak sopan di kuil; kenakan celana panjang atau rok panjang, atau bungkus sarung di atas celana pendekmu.

Apakah laki-laki juga perlu menutup bahu?

Ya. Aturan berpakaian berlaku untuk semua orang, jadi laki-laki sebaiknya memakai kemeja atau kaos berlengan alih-alih rompi, dan celana panjang alih-alih celana pendek.

Bisakah perempuan berbicara dengan biksu di Thailand?

Bisa, perempuan boleh berbicara dengan biksu secara sopan. Mereka sebaiknya menghindari menyentuh biksu atau menyerahkan apa pun langsung kepadanya, dan tidak duduk tepat di sebelahnya di transportasi umum.

Bolehkah memotret di dalam kuil Thailand?

Biasanya boleh, tanpa flash dan tanpa mengganggu orang yang sedang berdoa. Beberapa aula, termasuk kapel Buddha Zamrud di Wat Phra Kaew, tidak mengizinkan fotografi, dan papan tanda menjelaskannya dengan jelas.

Kenapa tidak boleh mengarahkan kaki ke patung Buddha?

Dalam budaya Thailand, kaki dianggap bagian tubuh yang paling rendah dan paling tidak bersih, jadi mengarahkannya ke patung Buddha, biksu, atau seseorang dianggap menghina. Duduklah dengan kaki terlipat ke samping atau ke belakang.

Baca juga